Hasil Pertemuan: Sikap Eropa terbelah soal serangan AS-Israel terhadap Iran
Sikap Eropa terbelah soal serangan AS-Israel terhadap Iran
Beberapa hari setelah serangan militer AS-Israel terhadap Iran, keputusan para negara Eropa masih memicu perdebatan. Meski tekanan dari Washington terus berlanjut agar sekutu terdekatnya mendukung tindakan tersebut, sejumlah anggota Uni Eropa (UE) dan Inggris menekankan perlunya menghormati hukum internasional serta mengupayakan deeskalasi. Namun, mereka belum mampu menyusun strategi yang bersatu untuk menghadapi krisis yang semakin mengguyur wilayah Timur Tengah, dengan potensi dampak global.
Pernyataan Trump dan Kritik Terhadap Inggris
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan dukungan dari “semua sekutu Eropa” terhadap operasi militer yang dilakukan AS dan Israel. Trump secara terbuka menyindir ketidaksetujuan beberapa pemerintah Eropa, terutama Inggris, yang menolak mendukung serangan tersebut.
“Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,”
katanya, mengacu pada sikap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menolak tindakan “perubahan rezim dari langit.”
Upaya Diplomasi dari UE
Blok Uni Eropa berusaha mengendalikan situasi dengan menekankan perlunya pengendalian diri dan peningkatan upaya diplomatik. Mereka mengingatkan bahwa perang yang berkepanjangan dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi dunia. Dalam konferensi darurat melalui video, para menteri luar negeri UE mengecam eskalasi lebih lanjut dan menyatakan “keprihatinan mendalam.” Komisi Eropa juga menggarisbawahi pentingnya solusi diplomatik untuk menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir.
Reaksi Inggris: Kombinasi Kritik dan Dukungan
Inggris mengambil pendekatan yang lebih hati-hati, menggabungkan kritik terhadap Iran dengan dukungan untuk upaya diplomatik. Starmer membela keputusan negara tersebut untuk tidak terlibat dalam serangan, menyatakan bahwa “kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran, di mana mereka melepaskan ambisi nuklirnya,” adalah solusi terbaik. Meski sempat membatasi penggunaan pangkalan Diego Garcia oleh AS, Inggris akhirnya memperbolehkan fasilitas itu digunakan untuk membantu keamanan Israel. Negara ini juga meningkatkan kehadiran pasukan tempur defensif di kawasan dengan mengirimkan jet Typhoon ke Qatar.
Peran Prancis: Menjaga Stabilitas Global
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengingatkan bahwa tindakan militer di luar hukum internasional bisa merusak stabilitas global. Ia menyerukan diskusi darurat di Dewan Keamanan PBB untuk menilai konsekuensi serangan. Paris berusaha menghindari konfrontasi langsung dengan Washington, tetapi mengecam balasan militer Iran. Prancis memperbolehkan pesawat AS singgah di beberapa pangkalan selama dibuktikan tidak digunakan untuk menyerang Iran, hanya mendukung operasi pertahanan kawasan. Selain itu, kapal induk Charles de Gaulle serta aset militer lain diterjunkan ke wilayah tersebut untuk melindungi kepentingan Prancis, termasuk pangkalan di Abu Dhabi.
Kritik dari Kanselir Jerman dan PM Belanda
Kanselir Jerman Friedrich Merz menganggap Iran sebagai ancaman keamanan utama, menyatakan bahwa sanksi dan diplomasi selama puluhan tahun belum mampu menghentikan kegiatan destabilisasi Teheran. Dalam kunjungan ke Gedung Putih, Trump memuji Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik” dan menyoroti keputusan Berlin yang memperbolehkan penggunaan Pangkalan Udara Ramstein. Merz mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan bukan lagi prioritas, mengingat risiko perang tanpa akhir bisa merugikan kepentingan Eropa, seperti pasokan energi, keamanan, dan migrasi.
Di sisi lain, PM Belanda Rob Jetten mengakui ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap keamanan wilayah, tetapi menilai serangan AS-Israel tidak sejalan dengan hukum internasional. Sementara itu, PM Spanyol Pedro Sánchez menyebut serangan tersebut sebagai “kesalahan luar biasa” dan memperingatkan bahwa konflik bisa mengancam stabilitas global. Madrid juga menolak izin penggunaan pangkalan udara dan lautan untuk keperluan militer AS.
