Rencana Khusus: Rusia Pemegang Kunci Damai AS-Israel-Iran, Saatnya Putin Bertindak?

b8f4a024 f9ea 4abd bdb2 f49bb262500d 0

Rusia Pemegang Kunci Damai AS-Israel-Iran, Saatnya Putin Bertindak?

Jakarta, CNBC Indonesia – Wilayah Timur Tengah kini menghadapi kemungkinan perubahan skala konflik dari operasi militer terbatas menjadi perang terbuka yang tidak berkesudahan. Keterlibatan negara-negara monarki Arab di Teluk Persia dalam dinamika perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) semakin intens, didorong oleh hubungan ekonomi dan keamanan yang saling terkait. Profesor di Middle East Studies Center serta Dosen Tamu di HSE University Moskow, Murad Sadygzade, mengatakan bahwa keberluasan konflik ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi yang dianggap logis oleh Teheran.

Menurut Sadygzade, Iran memandang keterlibatan langsung AS dalam bentuk serangan, dukungan intelijen, maupun penggunaan pangkalan militer telah mengubah status Washington menjadi pihak yang secara aktif terlibat dalam perang. “Kehadiran AS dalam operasi tersebut—melalui serangan, pendukung intelijen, pangkalan, atau posisi militer—membuatnya memiliki status sebagai pihak aktif berperang, sehingga infrastruktur militer AS di wilayah ini menjadi target yang sah,” tulisnya di Russia Today, Jumat (6/3/2026).

“Medan perang tidak hanya terbatas pada wilayah udara Iran atau teritori Israel; ia mencakup jaringan yang mendukung kekuatan Amerika, termasuk pusat logistik, fasilitas komando, dan ekosistem pendukung lainnya,” tambah Sadygzade.

Situasi ini berpotensi mengganggu kestabilan ekonomi global, mengingat peran penting Teluk Persia sebagai jantung pasar energi internasional. Murad memperingatkan bahwa kerentanan terhadap jalur minyak dan laut di sekitar Selat Hormuz bisa langsung memengaruhi harga minyak dunia, biaya asuransi kapal, serta kepercayaan investor. “Konflik yang mengancam Teluk bukan sekadar pertarungan lokal, tetapi menjadi ujian bagi sistem ekonomi global,” jelasnya.

Krisis ini juga menggoyahkan asumsi bahwa AS dapat menjamin keamanan mitra Arabnya, terutama dalam skenario eskalasi cepat. Murad menilai bahwa strategi balas dendam modern dirancang untuk merusak sistem pertahanan terkuat, bahkan dengan memperluas ancaman untuk menciptakan ketidakpastian ekonomi, bukan sekadar menguasai wilayah tertentu. “Jika negara-negara Teluk menyimpulkan bahwa payung keamanan Washington tidak lagi memadai, maka arsitektur keamanan regional mulai retak,” ujarnya.

Di tengah pergeseran ini, Rusia muncul sebagai pihak yang strategis. Sadygzade menyoroti upaya Presiden Vladimir Putin untuk berkomunikasi intensif dengan pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi sebagai langkah diplomatik untuk meredam ketegangan. “Kontak tersebut bukan sekadar panggilan telepon biasa, melainkan fungsi yang direncanakan. Moskow memiliki posisi unik dalam dinamika politik kawasan ini,” katanya.