Main Agenda: Target Kolesterol Pasien Berisiko Tinggi Baru 4,9%, Ahli Ingatkan Ancaman Penyakit Jantung

1782577597_5f19c34bac8d952d8204

Target Kolesterol pada Pasien Diabetes Tipe 2 Masih Jauh dari Harapan

Main Agenda – Menurut laporan terbaru, pencapaian target kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C) di Indonesia tergolong rendah, khususnya pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang berisiko tinggi. Studi registri multisenter yang diterbitkan di Indonesian Journal of Cardiology 2025 mencatat hanya 4,9% dari pasien dalam kategori berisiko tinggi dan sangat tinggi yang berhasil menurunkan LDL-C di bawah 55 mg/dL. Hasil ini menjadi sorotan dalam simposium ilmiah Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes, yang diselenggarakan Daewoong Pharmaceutical Indonesia di Bandung pada 27 Juni 2026, sekaligus menjadi bagian dari Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026.

Simposium ini dihadiri sekitar 500 tenaga medis, termasuk dokter spesialis penyakit dalam, residen, dan peneliti. Para peserta diskusi menyatakan bahwa tingkat pencapaian target LDL-C yang rendah mencerminkan tantangan besar dalam mengurangi risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes tipe 2. Menurut mereka, pengendalian diabetes tidak cukup hanya dengan memantau kadar gula darah, tetapi juga memerlukan pengelolaan kadar lipid secara optimal. Hal ini karena lipid memainkan peran kritis dalam memicu penyakit jantung dan stroke, yang merupakan penyebab utama kematian di kalangan pasien diabetes.

Kemungkinan Meningkatnya Risiko Kardiovaskular

Data World Heart Federation menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 765.660 kematian di Indonesia pada tahun 2021. Angka ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan pengelolaan lipid sangat penting dalam mencegah komplikasi berat. Selain itu, laporan studi registri nasional juga menyebutkan hanya 21,2% pasien diabetes tipe 2 yang mencapai target LDL-C di bawah 70 mg/dL. Angka ini lebih rendah dibandingkan kebanyakan negara berkembang, yang mengisyaratkan perlunya strategi yang lebih intensif.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal 2025 menemukan bahwa 74% pasien diabetes tipe 2 mengalami dislipidemia, yaitu ketidakseimbangan kadar lipid dalam darah. Jumlah tersebut meningkat menjadi 85% pada pasien yang juga menderita penyakit jantung koroner. Sidartawan Soegondo, dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care, mengungkapkan bahwa pasien diabetes tipe 2 di Indonesia biasanya memiliki lebih dari satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. “Oleh karena itu, penurunan LDL-C menjadi komponen kunci dalam terapi mereka,” katanya.

“Pada praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular, sehingga penurunan LDL-C menjadi prioritas terapi yang penting. Untuk meningkatkan tingkat pencapaian target, strategi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pasien,” ujar Sidartawan.

Ia menambahkan bahwa panduan internasional terbaru, seperti ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026, menekankan perlunya terapi berbasis bukti sejak dini. “Rekomendasi ini memperkuat konsep bahwa semakin rendah LDL-C dicapai sejak awal dan dipertahankan, semakin besar kemungkinan penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien,” tambahnya. Hal ini menggarisbawahi urgensi menurunkan kadar kolesterol jahat sebelum kondisi memburuk.

Terapi Kombinasi sebagai Solusi

Dalam simposium tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia memperkenalkan terapi kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin sebagai alternatif untuk pasien yang tidak mencapai target LDL-C dengan pengobatan tunggal. Kombinasi ini bekerja melalui dua mekanisme: mengurangi produksi kolesterol di hati serta membatasi penyerapan kolesterol di usus. Dengan cara ini, terapi kombinasi diharapkan lebih efektif dalam menurunkan LDL-C secara signifikan.

Komunikasi dari Da Hea Seo, seorang pembicara dari Korea Selatan di Division of Endocrinology, Inha University Hospital, menyatakan bahwa dislipidemia pada pasien diabetes memerlukan pendekatan menyeluruh. “Pengelolaan dislipidemia membutuhkan kombinasi antara pengendalian LDL-C dan faktor lain seperti tekanan darah serta kelebihan berat badan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa untuk pasien yang kesulitan mencapai target terapi, penggunaan obat yang menargetkan sintesis dan absorpsi kolesterol secara bersamaan dapat menjadi solusi utama.

“Pendekatan komprehensif yang mencakup pengendalian LDL-C sangat diperlukan bagi pasien diabetes tipe 2. Bagi mereka yang tidak mampu mencapai standar dengan monoterapi, terapi kombinasi bisa menjadi pilihan yang efektif,” tambah Da Hea Seo.

Panduan ACC/AHA 2026 juga merekomendasikan penggunaan kolesterol non-HDL dan apolipoprotein B (ApoB) sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi risiko kardiovaskular residual. Hal ini membantu dokter dalam mengambil keputusan terapi yang lebih tepat, terutama bagi pasien yang memiliki sindrom kardiometabolik-ginjal. “Kedua parameter ini memberikan gambaran lebih lengkap tentang kesehatan lipid dan risiko penyakit jantung,” kata seorang pembicara dari penyelenggara simposium.

Komitmen Daewoong untuk Terapi Penyakit Kronis

Sebagai penutup, CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menegaskan bahwa perusahaan akan terus mendukung pengembangan terapi penyakit kronis di Indonesia. “Selama 20 tahun terakhir, Daewoong telah membangun hubungan kuat dengan komunitas medis dan berkembang bersama sebagai mitra,” katanya. Ia menambahkan bahwa perusahaan tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga berkomitmen memberikan solusi terapi yang sesuai kebutuhan pasien.

Dengan upaya kolaborasi yang terus dilakukan, Daewoong berharap dapat meningkatkan kualitas pengelolaan penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2, di Indonesia. Penurunan LDL-C secara optimal, kata Park, merupakan langkah kritis untuk mencegah komplikasi berat. “Kami berkomitmen untuk memastikan terapi yang efektif dan aman, terutama bagi pasien yang rentan terhadap risiko kardiovaskular,” ujarnya.

Simposium ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali strategi pengelolaan lipid dan mendorong adopsi terapi lebih lanjut. Dengan penekanan pada faktor risiko yang beragam, serta peran kolesterol jahat sebagai penggerak utama, pasien diabetes tipe 2 diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit jantung secara lebih efektif. Hasil studi dan rekomendasi internasional menunjukkan bahwa penurunan LDL-C sejak dini tetap menjadi prioritas dalam perawatan jangka panjang.

Dengan angka pencapaian target yang masih rendah, para ahli sepakat bahwa perlunya pendekatan yang lebih dinamis dan personalisasi dalam terapi. Penelitian terus menunjukkan bahwa pengelolaan kolesterol jahat bukan hanya tentang dosis obat, tetapi juga tentang penyesuaian terapi berdasarkan profil kesehatan masing-masing pasien. Daewoong Pharmaceutical menilai bahwa inisiatif seperti simposium ini adalah langkah awal untuk mendorong perubahan yang lebih luas di bid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *