Visit Agenda: Kain Tenun Nusantara Meriahkan Women, Thread, and Time di Roma
Visit Agenda: Kain Tenun Nusantara Meriahkan Women, Thread, and Time di Roma
Visit Agenda – Dalam rangka memperkuat hubungan diplomatik dan budaya, acara khusus bertajuk “Women, Thread, and Time” di Roma pada 24 Juni 2026 menjadi ajang penting bagi ekspose kekayaan kain tenun nusantara. Dengan tema “Visit Agenda”, acara ini diselenggarakan oleh KBRI Roma bekerja sama dengan OERIP Indonesia, yang menghadirkan koleksi busana berbasis tekstil tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya membanggakan seni lokal tetapi juga menarik perhatian penggemar budaya internasional, terutama dari Vatikan dan Italia, dalam mengapresiasi warisan tekstil nusantara.
Melalui Seni Tekstil, Melestarikan Warisan Budaya Indonesia
Acara “Women, Thread, and Time” di Roma menjadi platform unik untuk menampilkan kreativitas dan keunikan kain tenun nusantara. OERIP Indonesia memamerkan 17 desain busana yang terbuat dari kain tenun Kalimantan, Sumatera, Sumba, Lombok, Bali, serta Sulawesi. Setiap karya ini tidak hanya menampilkan warna dan motif unik daerah asalnya, tetapi juga menggambarkan filosofi kehidupan dan narasi budaya yang terkandung dalam tekstil. Dian Erra Kumalasari, pendiri OERIP Indonesia, menjelaskan bahwa kain-kain tersebut dibuat melalui proses yang memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, menggambarkan dedikasi para penenun.
“Kain yang kami gunakan dibuat oleh para penenun perempuan dengan dedikasi luar biasa, bahkan ada yang membutuhkan waktu 10 tahun untuk menyelesaikan satu karya,” kata Dian. Ia juga menyebutkan bahwa salah satu koleksi yang ditampilkan berasal dari kain turun-temurun berusia sekitar 200 tahun, yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kehadiran kain tenun dari berbagai daerah menunjukkan upaya OERIP Indonesia dalam menjaga keberlanjutan wastra tradisional. Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono dalam sambutannya menegaskan pentingnya “Visit Agenda” sebagai bagian dari misi diplomasi budaya. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan Indonesia ke panggung internasional, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam membangun kesadaran global tentang kebudayaan nusantara.
Koleksi yang Universal dan Praktis
Sebagai bagian dari “Visit Agenda”, desain busana yang dipamerkan dirancang agar cocok untuk berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Salah satu busana yang menarik perhatian adalah Outer Peta Wastra, kardigan dengan bahan tenun polos dan gambar peta Indonesia di bagian belakang. Desain ini dipadukan dengan pewarna alami seperti batang, kulit kayu, akar indigo, secang, dan mengkudu, memberikan kesan alami dan khas pada setiap helai kain.
Kebudayaan Indonesia yang dipadukan dengan modernitas dalam koleksi ini menjadi magnet bagi penikmat seni dari berbagai latar belakang. Dian Erra Kumalasari menegaskan bahwa penggunaan pewarna natural memperkuat identitas kain tenun sebagai bentuk cerita dan kekuatan budaya. “Kain tenun bukan hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi sarana komunikasi antar generasi,” ujarnya. Kehadiran “Visit Agenda” di Roma diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi lebih luas terhadap keunikan tekstil nusantara.
Dalam rangkaian kegiatan “Visit Agenda”, OERIP Indonesia juga mengadakan workshop pembuatan kain tenun, yang diikuti oleh para pengrajin lokal dan penggemar seni internasional. Acara ini menjadi ajang untuk berbagi teknik serta pengetahuan tradisional yang terus dilestarikan meski menghadapi tantangan globalisasi. Para peserta workshop mendapatkan kesempatan untuk memahami alur produksi kain tenun, mulai dari proses menenun hingga pemilihan bahan alami.
Kolaborasi yang Menginspirasi
Kolaborasi antara KBRI Roma dan OERIP Indonesia dalam “Visit Agenda” ini menjadi contoh bagus dalam upaya melestarikan budaya lokal melalui inisiatif kreatif. Dengan menggabungkan keahlian para penenun dan inovasi desain, acara ini mampu memikat perhatian audiens lokal dan internasional. Dian Erra Kumalasari menambahkan bahwa “Visit Agenda” bukan hanya tentang menampilkan kain tenun, tetapi juga tentang menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi alat komunikasi budaya yang universal.
Kehadiran kain tenun nusantara di Roma juga membuka peluang kerja sama dengan industri mode internasional. Duta Besar Michael Trias Kuncahyono menyatakan bahwa “Visit Agenda” menjadi langkah strategis dalam menjembatani antara tradisi dan inovasi. Ia menekankan bahwa kain tenun, yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, perlu tetap dikenal dan dihargai dalam era globalisasi saat ini.
