New Policy: Harapan Inggris Kembali Uni Eropa Bertepuk Sebelah Tangan
Harapan Inggris Kembali Uni Eropa Bertepuk Sebelah Tangan
Analisis Senior Dosen Politik Universitas Liverpool
New Policy – Menurut Andrew Roe-Crines, seorang dosen senior politik di Universitas Liverpool, kemungkinan besar Uni Eropa tidak akan menerima tawaran Inggris untuk kembali bergabung dengan blok tersebut di bawah kepemimpinan perdana menteri baru. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan RIA Novosti pada Rabu (26/6), di mana Roe-Crines menyoroti perspektif yang mungkin menghadang upaya Inggris untuk bergabung kembali.
Menurut analisis Roe-Crines, Partai Buruh di Inggris kemungkinan besar akan mencoba menyelaraskan kebijakan mereka dengan Uni Eropa terutama pada isu-isu ekonomi dan sosial. Langkah ini dianggap sebagai awal dari upaya strategis untuk memperkuat kembali hubungan dengan blok tersebut. Namun, ia menekankan bahwa Brussel tidak akan mudah menerima penawaran tersebut, mengingat Inggris dikenal sebagai mitra yang sulit selama masa keanggotaan sebelumnya.
“Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa rencana yang matang untuk beradaptasi dengan realitas baru, sehingga Brussel mungkin menganggap upaya kembalinya sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan kelembagaan UE,” ujar Roe-Crines.
Roe-Crines juga menyebutkan bahwa pandangan sebagian kalangan di Inggris tentang Uni Eropa terlalu romantis. Mereka cenderung mengabaikan fakta bahwa UE saat ini sedang menghadapi berbagai masalah, termasuk kesulitan dalam menjaga perbatasan blok tersebut. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan antara harapan tinggi dan kenyataan kompleks yang menghimpit EU.
Dalam konteks ini, kubu pro-Uni Eropa di Inggris tampak kurang memahami seberapa besar penolakan masyarakat terhadap kembalinya negara tersebut. Menurut Roe-Crines, ada kesan arogan dalam pandangan kelompok yang ingin mengikat Inggris ke dalam institusi yang sedang mengalami tekanan. Ia menambahkan bahwa sikap ini bisa berdampak pada keberhasilan upaya Inggris untuk kembali ke UE.
“Konsep Uni Eropa dianggap terlalu idealis oleh sebagian orang di Inggris, padahal institusi tersebut terus-menerus menghadapi tantangan yang serius. Masyarakat Inggris mungkin belum siap mengakui bahwa kembalinya ke blok tersebut tidak sepenuhnya tergantung pada keputusan pemerintah,” papar Roe-Crines.
Kembali ke isu politik Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer baru saja mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan kepala partai Buruh, meskipun akan tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga pemimpin baru Partai Buruh terpilih. Pengumuman ini dilakukan pada Senin (22/6), menjelang pemilihan penggantinya yang akan dimulai pada 9 Juli dan selesai sebelum Parlemen Inggris Raya kembali bersidang pada September mendatang.
Starmer sebelumnya menghadapi tekanan internal dari sekitar 100 anggota parlemen Partai Buruh yang mendesaknya mundur setelah kegagalan partai dalam pemilihan daerah Inggris Raya. Jumlah pengkritik Starmer bahkan bertambah setelah Wali Kota Manchester, Andy Burnham, memenangkan kursi parlemen pekan lalu, yang memperkuat perlawanan terhadap kepemimpinannya. Meski demikian, Starmer tetap mempertahankan kekuasaan sebagai PM, berharap bisa mengamankan dukungan kembali untuk perjalanan politiknya.
Kelompok pro-Eropa di Inggris tampaknya terus berupaya untuk mendekati UE, tetapi ancaman keanggotaan kembali menghadapi hambatan signifikan. Roe-Crines mengingatkan bahwa keberhasilan kembalinya Inggris tidak hanya bergantung pada keinginan partai oposisi, tetapi juga pada sikap Brussel yang mungkin masih mempertahankan keraguan terhadap stabilitas politik Inggris setelah Brexit. Selama tiga tahun keanggotaan sebelumnya, Inggris menunjukkan sikap negoisasi yang tidak konsisten, sehingga membuat Brussel meragukan kesiapan negara tersebut untuk kembali.
“Dengan semua masalah yang dihadapi Uni Eropa, seperti migrasi dan kesenjangan ekonomi, penolakan terhadap kembalinya Inggris mungkin semakin meningkat. Masyarakat luas di Inggris mungkin belum memahami bahwa keputusan untuk kembali ke UE bukanlah hal yang bisa diambil secara mandiri oleh pemerintah,” ujarnya.
Kebijakan ekonomi dan sosial menjadi isu utama yang sering dibahas dalam konteks keanggotaan kembali Inggris. Roe-Crines menilai bahwa jika Partai Buruh ingin memperkuat hubungan dengan UE, mereka perlu menawarkan solusi yang lebih konkret, bukan hanya penjelasan idealis. Ia menyebutkan bahwa Uni Eropa membutuhkan mitra yang bisa bekerja sama secara konsisten, bukan negara yang terus berubah pandangan tergantung pada kondisi politik internal.
Dalam analisisnya, Roe-Crines juga menyoroti ketegangan yang terjadi antara keinginan politisi pro-Eropa dan penolak setempat. Meskipun beberapa anggota Partai Buruh berharap Inggris bisa kembali ke blok tersebut, banyak kalangan masyarakat dan anggota parlemen masih skeptis. Hal ini mencerminkan perbedaan pandangan antara elite politik dan rakyat umum, yang memengaruhi dinamika kebijakan nasional.
“Apakah Inggris bisa kembali ke Uni Eropa tergantung pada kemampuan Partai Buruh untuk menyeimbangkan antara visi idealis dan realitas yang berat. Jika mereka gagal dalam hal ini, Brussel akan tetap mempertahankan sikap dingin terhadap rencana kembalian Inggris,” kata Roe-Crines.
Meski harapan untuk keanggotaan kembali Inggris tidak terlalu tinggi, situasi politik di dalam partai Buruh tetap dinamis. Starmer harus berjuang keras untuk mempertahankan kekuasaannya, terutama setelah kegagalan partai dalam pemilihan daerah yang membuat sejumlah anggota parlemen tidak puas. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan keanggotaan kembali ke UE bisa menjadi bagian dari upaya internal partai untuk menyelaraskan visi politik antar anggota.
Di sisi lain, Roe-Crines menekankan bahwa masa depan Inggris jelas tidak terikat pada keanggotaan kembali UE. Ia membandingkan situasi saat ini dengan masa lalu, di mana Uni Eropa memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang signifikan, tetapi sekarang sedang menghadapi krisis yang memengaruhi reputasinya. “Pandangan bahwa Inggris bisa kembali ke UE tanpa hambatan adalah salah. Masa depan negara itu tetap bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan realitas pasca-Brexit,” ujarnya.
Dalam konteks global, kembalinya Inggris ke UE bisa memberikan dampak besar terutama dalam hubungan ekonomi antar negara. Namun, menurut Roe-Crines, tantangan terbesar akan datang dari dalam. Masyarakat Inggris mungkin belum sepenuhnya siap menerima kembali aturan-aturan yang selama ini dianggap sebagai pengorbanan, sementara negara-negara anggota UE mungkin masih memprioritaskan kepentingan politik mereka sendiri.
Kesimpulan Roe-Crines menyatakan bahwa keanggotaan kembali Inggris ke Uni Eropa akan menjadi proses yang kompleks, tergantung pada kemampuan partai dan pemerintah Inggris untuk menunjukkan komitmen yang stabil. “Hingga saat ini, harapan itu masih terlihat seperti bertepuk sebelah tangan, karena baik dari sisi internal Inggris maupun UE, tantangan tidak bisa diabaikan,” pungkasnya.
