• Kesehatan
  • /
  • Intermittent Fasting: Pengertian & Cara Tepat Melakukannya

Intermittent Fasting: Pengertian & Cara Tepat Melakukannya

Pola makan modern seringkali membuat banyak orang bingung mencari metode yang efektif untuk menjaga berat badan ideal dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Di tengah lautan informasi diet, satu pendekatan yang terus mendapatkan popularitas adalah intermittent fasting atau puasa berselang. Ini bukanlah diet dalam artian membatasi jenis makanan, melainkan sebuah pola makan yang mengatur waktu kapan Anda boleh makan dan kapan harus berpuasa. Popularitasnya meroket karena klaim manfaatnya yang beragam, mulai dari penurunan berat badan hingga perbaikan fungsi otak. Bagi Anda yang penasaran apa itu intermittent fasting dan cara melakukannya, artikel ini akan mengupas tuntas semuanya, dari konsep dasar, metode yang paling umum, manfaat yang didukung sains, hingga panduan praktis untuk memulainya dengan aman dan efektif.

Memahami Konsep Dasar Intermittent Fasting (IF)

Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pola makan yang telah dipraktikkan oleh manusia selama ribuan tahun, baik karena alasan budaya, spiritual, maupun karena keterbatasan sumber makanan. Secara sederhana, IF adalah siklus yang bergantian antara periode makan (disebut jendela makan) dan periode tidak makan (disebut periode puasa). Fokus utamanya bukan pada apa yang Anda makan, tetapi kapan Anda makan. Inilah yang membedakannya secara fundamental dari diet-diet tradisional yang seringkali berkutat pada perhitungan kalori atau pembatasan jenis makanan tertentu.

Ilmu di balik efektivitas IF terletak pada bagaimana tubuh merespons periode puasa. Ketika Anda tidak makan selama beberapa jam, tubuh akan kehabisan cadangan gula (glikogen) dan mulai membakar lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini dikenal sebagai ketosis metabolik. Selain itu, puasa memicu serangkaian perubahan hormonal yang menguntungkan. Kadar insulin, hormon penyimpan lemak, akan menurun drastis, yang memfasilitasi pembakaran lemak. Sebaliknya, kadar human growth hormone (HGH) bisa meningkat hingga lima kali lipat. Peningkatan HGH ini bermanfaat untuk pembakaran lemak dan pembentukan otot.

Lebih dari itu, pada level seluler, periode puasa memicu proses perbaikan yang sangat penting bernama autophagy. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti "memakan diri sendiri". Dalam proses ini, sel-sel tubuh membersihkan diri dengan membuang protein-protein tua dan rusak serta komponen sel lain yang tidak berfungsi optimal. Autophagy dianggap sebagai salah satu mekanisme kunci di balik potensi manfaat anti-penuaan dan pencegahan penyakit dari intermittent fasting. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat melihat bahwa IF lebih dari sekadar cara untuk mengurangi asupan kalori; ini adalah cara untuk mengoptimalkan fungsi tubuh dari level hormonal hingga seluler.

Ragam Metode Intermittent Fasting yang Populer

Metode 16/8 (Leangains Protocol)

Ini adalah metode intermittent fasting yang paling terkenal dan sering dianggap paling mudah untuk pemula. Metode 16/8 melibatkan puasa setiap hari selama 16 jam dan membatasi periode makan (jendela makan) menjadi 8 jam. Misalnya, Anda bisa memilih untuk makan hanya dari pukul 12 siang hingga 8 malam. Artinya, Anda akan melewatkan sarapan dan makan siang sebagai santapan pertama Anda, lalu makan malam sebelum jendela makan ditutup.

Selama periode puasa 16 jam, Anda tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman berkalori. Namun, Anda sangat dianjurkan untuk tetap terhidrasi dengan minum air putih, kopi hitam tanpa gula, atau teh tanpa gula. Keunggulan metode ini adalah jadwalnya yang relatif mudah diintegrasikan ke dalam rutinitas harian banyak orang, terutama mereka yang tidak terlalu merasa lapar di pagi hari. Konsistensi adalah kunci, dan banyak orang merasa metode ini paling berkelanjutan untuk jangka panjang.

Metode 5:2 (The Fast Diet)

Metode 5:2 dipopulerkan oleh jurnalis Dr. Michael Mosley. Konsepnya adalah Anda makan secara normal selama 5 hari dalam seminggu tanpa harus memikirkan batasan kalori. Namun, pada 2 hari lainnya yang tidak berurutan dalam seminggu (misalnya, hari Selasa dan Jumat), Anda membatasi asupan kalori secara drastis, yaitu sekitar 500 kalori untuk wanita dan 600 kalori untuk pria.

Pada hari puasa, disarankan untuk memilih makanan yang padat nutrisi dan tinggi protein serta serat untuk membantu Anda merasa kenyang lebih lama. Contohnya, Anda bisa makan dua porsi kecil yang terdiri dari sayuran, dada ayam panggang, atau telur rebus. Metode ini memberikan fleksibilitas karena Anda tidak perlu berpuasa setiap hari, namun memerlukan disiplin yang kuat pada dua hari puasa untuk mengontrol asupan kalori secara signifikan.

Eat-Stop-Eat

Metode ini dipopulerkan oleh pakar kebugaran Brad Pilon. Eat-Stop-Eat melibatkan puasa penuh selama 24 jam, yang dilakukan sekali atau dua kali dalam seminggu. Contohnya, Anda bisa berhenti makan setelah makan malam pada hari Senin (misalnya jam 7 malam) dan tidak makan lagi sampai waktu makan malam di hari Selasa (jam 7 malam). Ini dihitung sebagai satu siklus puasa 24 jam penuh.

Meskipun terdengar ekstrem, puasa 24 jam penuh memberikan waktu yang lebih lama bagi tubuh untuk masuk ke dalam kondisi pembakaran lemak dan autophagy. Namun, metode ini bisa menjadi tantangan bagi pemula. Efek samping seperti rasa lapar yang intens, sakit kepala, atau kelelahan mungkin lebih terasa. Sangat penting untuk memulai metode ini secara perlahan dan memastikan Anda makan dengan porsi normal dan nutrisi seimbang pada hari-hari tidak berpuasa, bukan "balas dendam" dengan makan berlebihan.

Perbandingan Metode Intermittent Fasting

Untuk memudahkan Anda memilih, berikut adalah tabel perbandingan dari beberapa metode populer:

Nama Metode Durasi Puasa Jendela Makan Tingkat Kesulitan (untuk Pemula) Deskripsi Singkat
Metode 16/8 16 jam setiap hari 8 jam setiap hari Rendah Melewatkan sarapan dan makan dalam rentang 8 jam. Paling populer dan mudah diikuti.
Metode 5:2 2 hari per minggu 5 hari makan normal Sedang Makan normal 5 hari, batasi 500-600 kalori pada 2 hari tidak berurutan.
Eat-Stop-Eat</strong> 24 jam, 1-2x seminggu Sisa hari makan normal Tinggi Puasa penuh selama 24 jam, misalnya dari makan malam ke makan malam berikutnya.
Puasa Alternatif Setiap hari kedua Setiap hari kedua Sangat Tinggi Sehari puasa (atau sangat rendah kalori), sehari makan normal. Sangat menantang.
Puasa Prajurit ~20 jam setiap hari 4 jam setiap hari Tinggi Puasa sepanjang hari dan makan satu porsi besar pada malam hari dalam jendela 4 jam.

Manfaat Intermittent Fasting yang Didukung Sains

Popularitas IF bukan tanpa alasan. Berbagai penelitian, baik pada hewan maupun manusia, telah menunjukkan serangkaian manfaat kesehatan yang potensial. Manfaat ini melampaui sekadar penurunan berat badan, menyentuh berbagai aspek kesehatan metabolik, seluler, dan bahkan kognitif. Penting untuk dicatat bahwa penelitian masih terus berkembang, tetapi bukti yang ada saat ini sangat menjanjikan.

Salah satu manfaat yang paling dicari adalah penurunan berat badan dan lemak tubuh. Dengan membatasi jendela makan, Anda secara alami cenderung mengonsumsi lebih sedikit kalori. Di samping itu, perubahan hormonal yang terjadi—seperti penurunan insulin dan peningkatan HGH—secara langsung mendorong tubuh untuk menggunakan cadangan lemak sebagai energi. Beberapa studi menunjukkan bahwa IF bisa sama efektifnya dengan diet pembatasan kalori konvensional, namun beberapa orang merasa lebih mudah untuk mematuhinya.

Manfaat signifikan lainnya adalah peningkatan sensitivitas insulin dan penurunan risiko diabetes tipe 2. Resistensi insulin adalah kondisi di mana sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, menyebabkan kadar gula darah tinggi dan menjadi cikal bakal diabetes tipe 2. Intermittent fasting terbukti dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan kadar insulin puasa secara signifikan. Dengan membuat sel-sel lebih sensitif terhadap insulin, IF membantu mengelola gula darah dengan lebih efisien.

Lebih jauh lagi, IF juga dikaitkan dengan kesehatan jantung, kesehatan otak, dan potensi anti-penuaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa puasa berselang dapat memperbaiki beberapa faktor risiko penyakit jantung, seperti menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), trigliserida, dan penanda inflamasi. Untuk otak, IF dapat meningkatkan kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF), sebuah protein yang mendukung kelangsungan hidup neuron dan mendorong pertumbuhan neuron baru. Proses autophagy yang telah disebutkan sebelumnya juga memainkan peran penting dalam membersihkan sel-sel dari "sampah" metabolik, yang diyakini dapat memperlambat proses penuaan dan melindungi dari penyakit neurodegeneratif.

Panduan Praktis Memulai Intermittent Fasting untuk Pemula

Memulai sesuatu yang baru, terutama yang berkaitan dengan pola makan, bisa terasa menakutkan. Kunci untuk sukses dalam intermittent fasting adalah memulainya secara perlahan dan mendengarkan sinyal tubuh Anda. Jangan terburu-buru mencoba metode yang paling ekstrem. Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk membantu Anda memulai perjalanan IF dengan lancar.

Pilih Metode yang Paling Sesuai dengan Gaya Hidup Anda

Langkah pertama dan terpenting adalah memilih metode yang paling realistis untuk Anda jalani. Bagi kebanyakan pemula, Metode 16/8 adalah titik awal yang ideal. Metode ini tidak terlalu drastis dan lebih mudah diadaptasi ke dalam jadwal kerja atau sosial. Cobalah untuk tidak sarapan dan jadikan makan siang sebagai makanan pertama Anda. Jika Anda adalah tipe orang yang sangat lapar di pagi hari, mungkin Anda bisa mencoba memajukan jendela makan Anda (misalnya makan dari jam 9 pagi hingga 5 sore) dan melewatkan makan malam. Evaluasi kembali setelah satu atau dua minggu, jika terasa terlalu sulit, jangan ragu untuk menyesuaikan jadwalnya.

Ingatlah bahwa tujuan utamanya adalah konsistensi. Lebih baik memilih metode yang lebih mudah dan melakukannya secara konsisten daripada memilih metode yang sulit dan menyerah setelah beberapa hari. Jangan merasa tertekan untuk langsung berpuasa 24 jam. Mulailah dari yang kecil, misalnya dengan puasa 12 jam terlebih dahulu, lalu secara bertahap tingkatkan durasinya menjadi 14 jam, dan akhirnya 16 jam.

Intermittent Fasting: Pengertian & Cara Tepat Melakukannya

Tetap Terhidrasi Selama Periode Puasa

Selama periode puasa, hidrasi adalah hal yang sangat krusial. Dehidrasi dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan rasa lapar yang keliru. Seringkali, tubuh salah mengartikan sinyal haus sebagai sinyal lapar. Oleh karena itu, pastikan Anda minum banyak cairan sepanjang hari, terutama selama jam-jam puasa Anda.

Minuman yang diperbolehkan dan tidak akan membatalkan puasa adalah semua minuman yang tidak mengandung kalori. Ini termasuk:

  • Air putih (bisa ditambahkan irisan lemon atau timun)
  • Kopi hitam tanpa gula, krimer, atau susu
  • Teh tawar (teh hijau, teh hitam, atau teh herbal)
  • Air soda tawar

Minuman-minuman ini tidak hanya membantu Anda tetap terhidrasi tetapi juga dapat membantu menekan rasa lapar. Kafein dalam kopi dan teh, misalnya, memiliki efek penekan nafsu makan yang ringan bagi sebagian orang.

Maksimalkan Nutrisi Selama Jendela Makan

Intermittent fasting mengatur kapan Anda makan, tetapi apa yang Anda makan tetap memegang peranan sangat penting. Jendela makan bukanlah alasan untuk makan sembarangan atau mengonsumsi junk food secara berlebihan. Kualitas makanan yang Anda konsumsi akan menentukan hasil yang Anda dapatkan, baik dari segi kesehatan maupun energi. Agar tubuh mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan, fokuslah pada makanan utuh (whole foods).

Prioritaskan asupan makanan yang seimbang, terdiri dari:

  • Protein berkualitas tinggi: Daging tanpa lemak, ayam, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Protein membantu Anda merasa kenyang lebih lama.
  • Karbohidrat kompleks: Nasi merah, ubi, kentang, oat, dan quinoa. Karbohidrat ini melepaskan energi secara perlahan.
  • Lemak sehat: Alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Sayuran dan buah-buahan: Konsumsi beragam sayur dan buah untuk mendapatkan serat, vitamin, dan mineral.

Makan makanan padat nutrisi selama jendela makan tidak hanya akan mendukung tujuan kesehatan Anda, tetapi juga akan membuat periode puasa berikutnya terasa lebih mudah dijalani karena tubuh Anda tercukupi gizinya.

Potensi Risiko dan Siapa yang Sebaiknya Berhati-hati

Meskipun intermittent fasting umumnya aman bagi kebanyakan orang dewasa yang sehat, metode ini tidak cocok untuk semua orang. Ada beberapa potensi efek samping dan kelompok individu yang harus berhati-hati atau bahkan menghindarinya sama sekali, kecuali di bawah pengawasan medis yang ketat. Mengetahui potensi risikonya sama pentingnya dengan mengetahui manfaatnya.

Efek samping yang paling umum, terutama pada masa-masa awal adaptasi, adalah rasa lapar yang intens, sakit kepala, pusing, kelelahan, dan mudah marah. Gejala-gejala ini biasanya bersifat sementara dan akan mereda setelah tubuh Anda terbiasa dengan pola makan yang baru. Namun, jika gejala ini terus berlanjut atau terasa sangat parah, mungkin ini pertanda bahwa metode yang Anda pilih terlalu ekstrem atau IF tidak cocok untuk Anda. Penting untuk mendengarkan sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri.

Ada beberapa kelompok orang yang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mencoba intermittent fasting. Kelompok ini meliputi:
Individu dengan riwayat <strong>gangguan makan</strong> (eating disorders*) seperti anoreksia atau bulimia.

  • Wanita hamil, sedang menyusui, atau mencoba untuk hamil. Kebutuhan nutrisi pada periode ini sangat tinggi dan pembatasan makan bisa berisiko.
  • Penderita diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang menggunakan insulin atau obat-obatan tertentu, karena puasa dapat menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) yang berbahaya.
  • Orang dengan tekanan darah rendah atau yang mengonsumsi obat tekanan darah.

Individu yang <strong>kurus atau kekurangan berat badan</strong> (underweight*).

Keamanan harus selalu menjadi prioritas utama. Jika Anda memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat-obatan resep, jangan pernah memulai pola makan baru yang restriktif tanpa berbicara terlebih dahulu dengan profesional kesehatan yang memahami riwayat medis Anda.

Tanya Jawab Umum (FAQ) Seputar Intermittent Fasting

Q: Apakah saya boleh minum vitamin atau suplemen saat berpuasa?
A: Ya, sebagian besar vitamin dan suplemen mineral tidak mengandung kalori dan dapat diminum selama periode puasa. Namun, beberapa suplemen (seperti vitamin yang larut dalam lemak A, D, E, dan K) lebih baik diserap saat dikonsumsi bersama makanan. Jadi, idealnya diminum saat jendela makan Anda. Suplemen seperti BCAA atau protein bubuk mengandung kalori dan akan membatalkan puasa.

Q: Apa saja yang bisa membatalkan puasa saat intermittent fasting?
A: Secara umum, segala sesuatu yang mengandung kalori akan membatalkan puasa dan menghentikan proses metabolik yang diinginkan (seperti ketosis dan autophagy). Ini termasuk minuman manis, soda, jus buah, susu, krimer dalam kopi, atau bahkan permen karet yang mengandung gula. Aturan praktisnya adalah jika Anda ragu, lebih baik hindari.

Q: Kapan waktu terbaik untuk berolahraga saat melakukan IF?
A: Ini sangat bergantung pada preferensi individu. Beberapa orang merasa lebih berenergi berolahraga dalam keadaan puasa, tepat sebelum membuka jendela makan mereka. Latihan dalam kondisi puasa dapat meningkatkan pembakaran lemak. Namun, yang lain mungkin merasa lemas dan lebih memilih berolahraga setelah makan. Coba kedua opsi tersebut dan lihat mana yang paling cocok untuk tubuh Anda. Untuk latihan intensitas tinggi, melakukannya saat jendela makan mungkin lebih optimal.

Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil dari intermittent fasting?
A: Hasil bervariasi pada setiap orang. Beberapa orang mungkin mulai merasakan peningkatan energi dan penurunan kembung dalam beberapa hari pertama. Penurunan berat badan yang terlihat biasanya mulai tampak setelah 2 hingga 4 minggu konsistensi. Untuk manfaat kesehatan yang lebih dalam seperti perbaikan sensitivitas insulin, mungkin dibutuhkan beberapa bulan. Kunci utamanya adalah kesabaran dan konsistensi.

Kesimpulan

Intermittent fasting adalah sebuah pola makan yang kuat dan fleksibel, bukan diet yang menyiksa. Dengan berfokus pada kapan makan, bukan hanya apa yang dimakan, IF menawarkan pendekatan unik untuk mengoptimalkan kesehatan hormonal, mendorong perbaikan seluler, dan memfasilitasi penurunan berat badan yang berkelanjutan. Metode yang beragam seperti 16/8, 5:2, dan Eat-Stop-Eat memungkinkan setiap individu untuk menemukan ritme yang paling sesuai dengan gaya hidup mereka.

Meskipun manfaatnya—mulai dari penurunan berat badan, peningkatan sensitivitas insulin, hingga kesehatan otak—sangat menjanjikan dan didukung oleh sains, penting untuk memulainya dengan bijak. Mulailah secara perlahan, pilih metode yang paling realistis untuk Anda, tetap terhidrasi, dan prioritaskan asupan makanan padat nutrisi selama jendela makan. Yang terpenting, dengarkan selalu tubuh Anda dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan jika Anda memiliki kondisi medis yang mendasarinya. Dengan pendekatan yang tepat, intermittent fasting bisa menjadi alat yang ampuh untuk mencapai tujuan kesehatan dan kebugaran Anda dalam jangka panjang.

***

Ringkasan Artikel

Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang adalah sebuah pola makan yang mengatur siklus antara periode makan (jendela makan) dan periode puasa. Fokusnya adalah pada kapan Anda makan, bukan apa yang Anda makan. Metode ini bekerja dengan memicu perubahan hormonal yang menguntungkan, seperti penurunan insulin dan peningkatan HGH, serta mengaktifkan proses perbaikan seluler yang disebut autophagy.

Ada berbagai metode populer, di antaranya:

  • Metode 16/8: Puasa 16 jam dan makan dalam jendela 8 jam setiap hari (paling cocok untuk pemula).
  • Metode 5:2: Makan normal 5 hari seminggu dan membatasi kalori (500-600) pada 2 hari tidak berurutan.

<strong>Eat-Stop-Eat:* Melakukan puasa penuh selama 24 jam, sekali atau dua kali seminggu.

Manfaat utama IF yang didukung penelitian meliputi penurunan berat badan, peningkatan sensitivitas insulin, penurunan risiko diabetes tipe 2, serta potensi perbaikan kesehatan jantung dan otak. Untuk memulai, disarankan memilih metode yang paling sesuai dengan gaya hidup Anda (biasanya 16/8), tetap terhidrasi dengan minuman non-kalori selama puasa, dan mengonsumsi makanan padat nutrisi saat jendela makan. Meskipun umumnya aman, IF tidak disarankan untuk beberapa kelompok orang (seperti wanita hamil, penderita gangguan makan, atau penderita diabetes tertentu) tanpa konsultasi medis terlebih dahulu.

fitinfosehat.com

FitInfoSehat.com adalah platform yang didedikasikan untuk menyediakan informasi terkini dan bermanfaat seputar kesehatan dan gaya hidup sehat. Kami berkomitmen untuk membantu pembaca kami mencapai hidup yang lebih sehat melalui artikel yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami. Dengan tim penulis yang terdiri dari para ahli di bidang kesehatan dan gaya hidup, kami berupaya untuk menjadi sumber referensi utama bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas hidup mereka.

You May Also Like

Selamat datang di fitinfosehat.com! Kami adalah sumber terpercaya untuk informasi kesehatan dan gaya hidup seimbang.

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Contact Us

Have questions or feedback? We’re here to listen!

© 2025 Fitinfosehat.com. All rights reserved.