Special Plan: Industri Sepatu Nasional Lesu, Aprisindo Soroti Kenaikan Bahan Baku Hingga Gangguan Listrik
Industri Sepatu Nasional Lesu, Aprisindo Soroti Kenaikan Bahan Baku Hingga Gangguan Listrik
Special Plan – Dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, industri sepatu nasional tengah menghadapi tantangan serius. Kenaikan biaya bahan baku dan gangguan listrik yang terus menghiasi pabrik-pabrik dalam negeri menjadi faktor utama yang memengaruhi kelangsungan operasional. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Yoseph Billie Dosiwoda, menjelaskan situasi ini lebih lanjut dalam wawancara terbarunya, Senin (22/6). Menurut Yoseph, perusahaan seperti PT Fengtay di Kabupaten Bandung belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, melainkan mengambil langkah efisiensi dengan merumahkan sebagian karyawan. Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa sektor ini sedang berada dalam fase penantian (wait and see) akibat tekanan yang semakin berat.
Perubahan Global dan Daya Beli Domestik
Aprisindo mengakui bahwa ancaman dari kondisi ketidakpastian global dan penurunan daya beli masyarakat dalam negeri telah menghambat pertumbuhan industri. “Jika situasi ini tidak membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, PHK bisa jadi pilihan terakhir yang tidak terhindarkan,” ujar Yoseph dalam pernyataan terbarunya. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku sepatu mencapai 30-40% dalam beberapa bulan terakhir, terutama karena efek dari kebijakan impor selektif yang berlaku. Hal ini menyebabkan biaya produksi meningkat, sehingga produsen kesulitan untuk menjaga margin keuntungan.
“Masih wait and see karena yang dihadapi cukup berat, melihat 2-3 bulan lagi baik dari situasi ketidakpastian global dan daya beli masyarakat di dalam negeri juga turun, bila tidak berubah tidak menutup kemungkinan opsi terakhir yang tidak diiginkan PHK bisa saja terjadi,”
Yoseph menambahkan bahwa industri sepatu nasional juga tergantung pada pasar global. Saat ini, tarif impor dari Amerika Serikat berada di level 10%, sementara Indonesia masih menjaga tarifnya pada angka 19% melalui kesepakatan dagang (Agreement on Trade Relations/ART) yang telah disepakati. Namun, ia menyoroti bahwa tarif yang lebih rendah dibandingkan kompetitor tetap menjadi strategi penting untuk memastikan stabilitas pesanan. Jika tarif impor AS terus menurun, Indonesia bisa kehilangan keuntungan kompetitif dalam menarik pembeli internasional.
Kendala Infrastruktur dan Gangguan Listrik
Di samping tekanan dari luar, Yoseph mengungkapkan bahwa masalah infrastruktur dalam negeri turut membebani industri. Salah satu isu utama adalah pemadaman listrik yang sering terjadi, mengganggu proses produksi dan meningkatkan biaya operasional. “Gangguan aliran listrik tidak hanya memperlambat produksi, tetapi juga merusak kepercayaan pelaku usaha terhadap keandalan sistem infrastruktur,” katanya. Yoseph mengingatkan bahwa keadaan ini berpotensi memperparah kesulitan industri, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah yang bergantung pada daya listrik untuk menjalankan operasional harian.
“Ya efisiensi dilakukan dengan dirumahkan, bukan PHK, efisiensi pasti dilakukan namun iklim industri yang kondusif juga sangat dibutuhkan terutama gangguan listrik ini harus segera diantisipasi oleh Pemerintah. Kita sudah menerima laporan dari Anggota dan kami segera melakukan koordinasi kepada leading sector Menteri terkait agar ditangani secara cepat dan berkelanjutan,”
Menurut Yoseph, selain pemadaman listrik, ada faktor lain seperti keterlambatan pengiriman bahan baku dan peningkatan biaya produksi yang harus diatasi. “Kondisi ini sangat mengancam keberlanjutan industri, terutama dalam memenuhi permintaan ekspor yang menjadi tulang punggung perekonomian sektor ini,” imbuhnya. Ia menekankan perlunya dukungan pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur, termasuk sistem listrik, agar produksi bisa berjalan optimal.
Langkah Pemerintah untuk Mempertahankan Kinerja Industri
Dalam upaya menghadapi tantangan tersebut, Yoseph meminta pemerintah segera mengambil tindakan. Ia menyarankan pelonggaran regulasi dan insentif fiskal sebagai langkah strategis untuk menjaga arus kas pelaku usaha. “Pembatalan restitusi PPN adalah salah satu langkah yang bisa memberi dampak signifikan, karena uang pelaku industri sering kali tertahan di kas negara,” katanya. Selain itu, Yoseph juga berharap pemerintah mampu memberikan kepastian hukum mengenai upah yang ramah bagi sektor padat karya, serta memastikan harga listrik dan gas tetap stabil dengan pengurangan tarif.
“Ya kalau keadaan tidak berubah outlock tentu akan turun terutama ekspor, maka yang diperlukan kepada pemerintah adalah hapus restitusi PPN dimana uang pelaku Industri tertahan di kas negara ini sangat membantu pelaku industri. Kebijakan insentif fiskal dengan harga diskon listrik (bukan pemadaman) dan harga gas serta memberikan kepastian hukum (regulasi) upah yang ramah bagi sektor padat karya (labour intensive) yang menyerap tenaga kerja secara langsung dan kontribusi terhadap devisa dan pajak negara. Karena efisiensi Perusahaan juga harus pararel dengan dukungan pemerintah agar produktivitas tetap berjalan,”
Direktur Eksekutif Aprisindo ini memperkirakan bahwa jika kondisi makroekonomi tetap stagnan, eksportir nasional akan mengalami penurunan hasil. “Efisiensi menjadi hal yang wajib, tetapi harus didukung oleh kebijakan pemerintah yang proaktif,” tambahnya. Ia menekankan bahwa keberlanjutan industri sepatu tidak hanya bergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi juga pada kebijakan nasional yang mampu menciptakan lingkungan usaha yang lebih kondusif. Dengan adanya dukungan regulasi, insentif fiskal, dan perbaikan infrastruktur, industri sepatu nasional diharapkan bisa bertahan di tengah tekanan eksternal dan internal.
Aprisindo juga menyoroti bahwa industri sepatu memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Selain menyerap tenaga kerja secara langsung, sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa dan penerimaan pajak. “Jika industri ini runtuh, dampaknya akan terasa hingga ke berbagai sektor lain,” ujarnya. Dengan demikian, keputusan pemerintah dalam mengambil langkah-langkah penguatan sektor ini menjadi sangat krusial untuk mencegah krisis yang lebih luas.
Dalam beberapa bulan terakhir, selain masalah bahan baku dan listrik, ada pula isu mengenai ketidakstabilan pasokan bahan baku yang memaksa produsen mengalami penundaan produksi. Menurut Yoseph, kondisi ini berpotensi menurunkan kapasitas produksi dan meningkatkan biaya operasional. “Kebutuhan akan bahan baku yang konsisten dan murah menjadi prioritas utama,” katanya. Dengan adanya gangguan global, seperti perang dagang dan inflasi yang terus meningkat, industri sepatu harus beradaptasi dengan cepat untuk tetap kompetitif.
Aprisindo juga mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang berdampak langsung pada industri. “Beberapa regulasi yang terasa berat bagi produsen perlu diperiksa kembali, terutama yang menghambat alur distribusi dan produksi,” papar Yoseph. Ia mencontohkan bahwa insentif fiskal yang diberikan kepada industri harus dirancang secara lebih strategis, agar benar-benar memberikan dampak positif. Dengan adanya kepastian hukum dan dukungan keuangan, industri sepatu nasional bisa memperkuat posisi pasar dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Sementara itu, Yoseph menyatakan bahwa meskipun ada tantangan, sektor sepatu masih memiliki potensi untuk bangkit. “Kami yakin dengan peran pemerintah dan kolaborasi antar pelaku industri, kondisi bisa kembali membaik,” katanya. Ia menegaskan bahwa langkah-lang
