Topics Covered: Purbaya: Harga Pertamax Berpeluang Turun Seiring Pelemahan Harga Minyak Dunia
Purbaya: Harga Pertamax Berpeluang Turun Seiring Pelemahan Harga Minyak Dunia
Topics Covered – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax, berpotensi menurun jika kondisi harga minyak global terus membaik. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin, 2 Juni 2026. Menurutnya, penurunan harga minyak dunia bisa memberikan dampak positif pada harga energi dalam negeri, sekaligus memperkuat dasar perekonomian Indonesia.
Kondisi Ekonomi Global dan Perdamaian AS-Iran
Purbaya menilai bahwa prospek ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama seiring kemungkinan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Faktor geopolitik yang selama ini menyebabkan ketegangan di pasar minyak, seperti konflik antara kedua negara tersebut, dinilai semakin berkurang. Ini diharapkan mampu mendorong stabilitas harga minyak global, yang selanjutnya berpotensi memengaruhi harga BBM di dalam negeri.
“Saya yakin dengan penurunan harga minyak dunia, harga Pertamax dan BBM lainnya akan ikut merosot. Dengan demikian, fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kokoh,” ujar Purbaya dalam pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Purbaya mengungkapkan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi memiliki dampak signifikan pada daya beli masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah membaik, sehingga tekanan dari kenaikan harga minyak dunia bisa dikurangi. “Kalau kita melihat data terkini, jelas terlihat bahwa kita sudah melewati masa ujian yang berat. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada agar pertumbuhan ekonomi bisa optimal,” tambahnya.
Data Makroekonomi yang Membuktikan Kinerja Positif
Dalam semester pertama 2026, Indonesia tercatat berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61%. Angka ini menjadi bukti bahwa perekonomian negara ini masih stabil meski terkena berbagai tekanan global. Inflasi tetap terjaga rendah, sementara neraca perdagangan mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026. Cadangan devisa juga terpantau cukup memadai, dan sektor manufaktur kembali berada dalam fase ekspansi.
“Situasi itu menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia mulai meningkat,” kata Purbaya.
Kemajuan ini, menurutnya, akan menjadi fondasi untuk memperkuat daya tahan perekonomian pada semester II 2026. “Kita perlu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi secara bertahap agar tidak memberi tekanan berlebihan pada masyarakat. Sementara harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli,” jelas Menteri Keuangan.
Faktor Pendukung Stabilitas Rupiah
Purbaya menambahkan bahwa perdamaian AS-Iran akan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya pendanaan atau cost of fund, yang bisa menjadi lebih kompetitif. “Bila perdamaian itu terwujud, rupiah diharapkan semakin stabil. Selain itu, biaya dana akan menurun, sehingga investasi dalam negeri bisa meningkat,” tuturnya.
Menurut data yang diungkapkan, penyaluran kredit tumbuh dua digit pada triwulan I-2026. Hal ini menunjukkan bahwa sektor keuangan semakin aktif dalam mendorong ekspansi perekonomian. “Faktor-faktor tersebut memberikan sinyal bahwa Indonesia mampu bertahan meski menghadapi tantangan eksternal,” pungkas Purbaya.
Perspektif Masa Depan dan Kebutuhan Pemerintah
Menteri Keuangan juga menyebutkan bahwa pemerintah perlu terus mengawasi kinerja ekonomi untuk menjaga momentum pertumbuhan. Ia menekankan bahwa penurunan harga minyak global tidak hanya memberi manfaat bagi BBM, tetapi juga mendorong kebijakan fiskal yang lebih efisien. “Selain itu, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan subsidi tetap memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM,” katanya.
Perkembangan harga minyak dunia yang terus menurun akan menjadi keuntungan besar bagi Indonesia, terutama dalam mengurangi defisit neraca perdagangan. Purbaya menilai bahwa dengan harga minyak yang stabil, pengeluaran pemerintah untuk impor bahan bakar bisa ditekan, sehingga alokasi anggaran bisa dialihkan ke sektor lain yang lebih produktif.
Kontribusi Sektor Manufaktur dan Kredit
Dalam beberapa bulan terakhir, sektor manufaktur kembali mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan ini dianggap sebagai indikator utama keberhasilan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan produksi domestik. “Dengan kondisi ekonomi yang membaik, sektor manufaktur bisa menjadi motor penggerak utama ekonomi Indonesia,” ujar Purbaya.
Sementara itu, peningkatan volume penyaluran kredit menjadi bukti bahwa perbankan semakin percaya pada kinerja ekonomi. Purbaya mengatakan bahwa kebijakan moneter yang tepat bisa mengoptimalkan pertumbuhan ini. “Dengan kepercayaan pasar yang meningkat, investasi akan semakin mengalir ke berbagai sektor, termasuk infrastruktur dan teknologi,” terangnya.
Perdamaian antara AS dan Iran dinilai sebagai faktor penting yang mendorong pelemahan harga minyak. Dengan situasi geopolitik yang lebih tenang, pasokan minyak bisa terjaga, sehingga harga global tidak terlalu fluktuatif. “Ini akan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM secara lebih fleksibel,” tambah Purbaya.
Menurutnya, keberhasilan pengurangan harga BBM nonsubsidi akan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat. “Daya beli masyarakat yang meningkat akan mendorong konsumsi, sehingga m
