Key Issue: Kisah Direktur RS Gaza yang Ditahan Israel 500 Hari tanpa Dakwaan

1782034061_2a1bc138a388e4a21414

Kisah Direktur RS Gaza yang Ditahan Israel 500 Hari tanpa Dakwaan

Key Issue – Dalam sebuah momen yang menggambarkan keteguhan, seorang dokter Palestina di wilayah utara Gaza berjalan tenang menuju tank milik Angkatan Pertahanan Israel (IDF), seolah tak tergoyahkan oleh reruntuhan bangunan di sekitarnya. Foto tersebut menjadi viral di berbagai platform media sosial, menarik perhatian miliaran orang. Pria yang terlihat dalam gambar tersebut adalah Dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan. Kini, ia telah berada dalam penahanan Israel selama lebih dari setahun tanpa ada dakwaan resmi atau proses peradilan yang jelas.

Kasus Penahanan yang Membayangi Profesi Medis

Aku Abu Safiya ditahan sejak 27 Desember 2024, dan sampai saat ini, ia belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai alasan penahanannya. Menurut laporan dari Physicians for Human Rights Israel (PHRI), keberadaannya sempat tidak diketahui selama sepuluh hari sebelum akhirnya diumumkan bahwa ia berada di salah satu pusat penahanan militer. Sejak itu, ia dipindahkan ke berbagai penjara, termasuk Sde Teiman, Ofer, Nafha, hingga Ramon, di mana ia dilaporkan tinggal di sel isolasi. Situasi ini menunjukkan tekanan besar yang dialami tenaga medis di zona konflik Gaza, di mana setiap langkah mereka bisa menjadi sasaran.

Kondisi fisik Abu Safiya semakin memburuk seiring waktu. Ia kehilangan hingga 20 kilogram berat badan, mengalami gejala penyakit kulit yang parah, dan kesulitan memperoleh obat untuk menurunkan tekanan darah selama dua bulan awal penahanannya. Keluarga yang terdampak juga mengungkapkan bahwa kacamata miliknya disita, menyebabkan gangguan penglihatan serius. “Bapak saya tidak bisa melihat dengan jelas karena kacamata yang dipakai sejak lama dicabut,” kata salah satu anggota keluarga. Hal ini menambah kesulitan dalam menjalani rutinitas sehari-hari, terutama dalam mengurus pasien.

Tragedi Keluarga yang Mengguncang

Sebelum ia ditahan, Abu Safiya mengalami kejadian menyedihkan yang memengaruhi kehidupannya. Pada Oktober 2024, putranya yang berusia 15 tahun, Ibrahim, tewas akibat serangan drone Israel di pintu masuk Rumah Sakit Kamal Adwan. Insiden tersebut tidak hanya merusak kenyamanan keluarga, tetapi juga memicu emosi yang mendalam. Pada November 2024, ia sendiri terkena luka akibat serpihan peluru dalam serangan udara di kantornya, namun ia tetap bersemangat dalam menjalankan tugas medis. “Meski terluka, saya tidak berhenti merawat pasien yang membutuhkan,” katanya dalam wawancara sebelum ditahan.

Putra kedua Abu Safiya, Elyas, menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang berani menyuarakan kenyataan melalui media sosial. “Bapak saya seperti jurnalis warga, yang terus berusaha menunjukkan kondisi rumah sakit yang hancur dan penderitaan pasien kepada dunia,” ujarnya. Upaya ini tidak hanya memperlihatkan dedikasinya terhadap profesi, tetapi juga menggambarkan peran kemanusiaan dalam situasi krisis.

Perlawanan terhadap Tuduhan Terorisme

Angkatan Pertahanan Israel (IDF) menuduh Abu Safiya terlibat dalam aktivitas terorisme serta memegang jabatan dalam organisasi Hamas. Namun, ia dan keluarga menyangkal tuntutan tersebut dengan tegas. “Saya hanya seorang dokter anak yang menjalankan tugas penyelamatan nyawa, bukan pelaku kekerasan,” kata Abu Safiya dalam pernyataan resmi. Pihak pendukungnya juga menegaskan bahwa penahanannya tidak adil, dengan sengaja menahan individu tanpa proses hukum yang transparan.

Kasus ini dianggap sebagai simbol keadilan yang rusak, khususnya bagi para pekerja medis yang terus bertahan meski dalam kondisi rentan. Dalam sebuah wawancara, Abu Safiya menyampaikan bahwa ia merasa dirinya tidak lagi menjadi bintang penyelamatan, melainkan menjadi sasaran kebijakan yang tidak jelas. “Saya selalu berharap bisa kembali ke Gaza dan terus menolong anak-anak yang sakit,” imbannya. Namun, harapan itu terusik setelah ia ditahan.

Penampilan di Pengadilan dan Penolakan Banding

Sebagai bagian dari upaya menyelamatkan dirinya, Abu Safiya muncul dalam sebuah persidangan melalui video pada Juni 2026, di Mahkamah Agung Israel. Ia menunjukkan kondisi fisik yang sangat kurus, dengan tangan terborgol dan wajah pucat. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan melalui pengacaranya, Nasser Odeh: “Saya adalah seorang dokter anak, memberikan perawatan medis kepada yang sakit dan terluka. Penahanan saya tidak adil dan sewenang-wenang.” Meski berusaha membela diri, pengadilan menolak permohonan bandingnya dan menetapkan penahanannya tetap berlangsung.

Kasus ini kini menjadi sorotan organisasi hak asasi manusia internasional, yang mendesak pemerintah Israel untuk melepaskan Abu Safiya serta 14 tenaga medis Palestina lainnya. Mereka menilai bahwa penahanan tanpa dakwaan merupakan pelanggaran terhadap prinsip hukum internasional. “Penahanan ini memperburuk penderitaan rakyat Gaza yang sudah terluka,” kata seorang aktivis dari organisasi tersebut. Dengan tahanan yang tidak diberi kesempatan untuk membela diri, tuntutan keadilan bagi para dokter dan perawat menjadi semakin terbengkalai.

Kondisi Rumah Sakit dan Tantangan Nyata

Kasus Abu Safiya juga mencerminkan kondisi rumah sakit Gaza yang memburuk. Rumah Sakit Kamal Adwan, tempat ia bertugas, menjadi salah satu dari banyak fasilitas kesehatan yang terus-menerus mengalami kerusakan akibat serangan udara. Pada saat ia ditahan, pasien terus berdatangan, tetapi pasokan obat dan peralatan medis semakin terbatas. “Kami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *