New Policy: Berpikir Komputasional Perlu Diterapkan Dalam PAUD di Indonesia

1781799900_1002abc8a49c062bf446

Berpikir Komputasional Harus Dijadikan Komponen Utama Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Pendekatan Strategis untuk Membentuk Karakter dan Keterampilan Masa Depan

New Policy – Dalam upaya menciptakan generasi yang lebih mandiri dan inovatif, pendidikan anak usia dini (PAUD) dianggap sebagai fondasi yang sangat kritis. Prof. Dr. Trubus Rahardiansyah, seorang Guru Besar Universitas Trisakti dan Ketua Umum Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI), menekankan bahwa fase ini memiliki peluang besar untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang mendukung perkembangan anak secara holistik. Menurutnya, PAUD tidak hanya membentuk keterampilan sosial, tetapi juga menjadi wadah untuk mengasah kemampuan berpikir logis, sistematis, serta kreativitas, yang kini dikenal sebagai berpikir komputasional. “Fase PAUD adalah momen kritis untuk menumbuhkan keberanian, inovasi, dan cara berpikir yang mengarah pada prestasi anak di masa depan,” jelasnya saat acara FKPI di Jakarta, Kamis (18/6).

Dalam konteks pendidikan, Trubus menyoroti bahwa peran guru PAUD sangat menentukan. Ia menyatakan bahwa anak-anak di usia dini lebih mudah meniru perilaku dan pola berpikir guru. “Guru adalah benteng utama dalam membentuk kebiasaan belajar, interaksi sosial, dan kemampuan mengelola emosi anak. Jadi, jika guru mampu memberikan contoh yang baik, itu akan menjadi fondasi kuat untuk masa depan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus berperan aktif dalam menyediakan dukungan yang optimal bagi penyelenggaraan PAUD, karena saat ini banyak institusi pendidikan tersebut masih bergantung pada sektor swasta. “Kehadiran negara melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah harus diwujudkan secara lebih maksimal, baik dalam sumber daya manusia maupun infrastruktur,” ujar Trubus.

“PAUD tidak bisa hanya menjadi sekadar tempat bermain, tapi harus menjadi alat untuk membangun cara berpikir yang adaptif dan terstruktur. Ini sangat berpengaruh pada cara anak memahami dunia di sekitarnya, termasuk permainan tradisional yang kini terabaikan,” kata Trubus.

Menurut Trubus, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas PAUD adalah dengan mengintegrasikan berpikir komputasional (Computational Thinking/CT) ke dalam kurikulum. CT, menurutnya, merupakan metode pendidikan yang mengajarkan anak-anak untuk menyelesaikan masalah secara logis, berpola, dan menggunakan struktur pikir yang terorganisir. “Dengan CT, anak-anak tidak hanya belajar melalui pengalaman, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekitar, termasuk mengapresiasi kearifan lokal yang sering kali terabaikan,” imbuhnya. Ia mengkritik kebijakan saat ini yang tidak merata dalam menyebarluaskan CT, baik secara regional maupun keterlibatan masyarakat.

Di sisi lain, Dosen PAUD dari Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina, menyoroti bahwa penerapan CT membutuhkan kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Menurutnya, CT tidak hanya berdampak pada kemampuan intelektual anak, tetapi juga membentuk cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar. “Ketika anak diberikan kesempatan untuk berpikir secara komputasional, mereka akan lebih mudah memahami konsep abstrak dalam kehidupan sehari-hari, seperti memecahkan masalah sederhana atau mengelola tugas yang kompleks,” jelas Irma. Ia mencontohkan bahwa permainan tradisional seperti gobak sodor, yang dahulu populer di kampungnya, bisa menjadi sarana efektif untuk mengenalkan CT sekaligus memperkaya pengalaman belajar anak.

Irma juga menyebutkan bahwa keberhasilan implementasi CT bergantung pada kesejahteraan guru. Ia menunjukkan data bahwa sekitar 13% dari guru PAUD memiliki gelar S1 khusus, sementara 50% lainnya berasal dari bidang non-PAUD, dan selebihnya belum memiliki gelar sarjana. “Ini menunjukkan bahwa masih ada jarak dalam kesiapan tenaga pendidik untuk mengintegrasikan CT ke dalam pembelajaran. Maka, kita perlu membangun sistem pelatihan yang berkelanjutan, seperti yang sudah diterapkan di Kudus, untuk memastikan konsistensi dalam pengajaran,” kata Irma. Dalam konteks ini, dia menekankan bahwa dukungan dari perusahaan, termasuk dana CSR, bisa menjadi faktor pendorong penting.

“Dengan CT, kita bisa mengajarkan anak untuk memahami makna belajar melalui aktivitas yang lebih mendalam. Ini lebih dari sekadar menghafal, melainkan membangun pemahaman yang bermakna dan terstruktur,” ujarnya.

Menurut Irma, keberhasilan penerapan CT juga berkaitan dengan peningkatan literasi anak. Ia menyatakan bahwa kekurangan literasi di skor PISA dapat diperbaiki melalui pendekatan pembelajaran yang lebih dalam, seperti deep learning. “Anak-anak yang terbiasa berpikir komputasional akan lebih mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi nyata, baik dalam ujian maupun dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa CT bisa menjadi jembatan antara pendidikan formal dan kehidupan bermasyarakat, karena memberikan anak kemampuan untuk mengambil keputusan secara logis.

Trubus dan Irma sepakat bahwa PAUD perlu dirancang secara holistik, bukan hanya berbasis materi, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai sosial, budaya, dan keterampilan berpikir. Trubus menekankan bahwa selain kearifan lokal, PAUD harus menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar menghormati orangtua, leluhur, serta lingkungan. “Kita harus menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan rasa hormat dan kepekaan sosial, karena ini menjadi pondasi untuk kehidupan yang lebih baik,” katanya. Irma menambahkan bahwa pendekatan ini bisa diwujudkan melalui kerja sama antar institusi dan penerapan metode yang kreatif.

Dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, Trubus yakin bahwa PAUD bisa menjadi pelopor pengembangan berpikir komputasional di Indonesia. Ia menyoroti bahwa PAUD bukan hanya tentang keberhasilan jangka pendek, tetapi juga penanaman nilai-nilai yang akan memengaruhi masa depan bangsa. “Jika kita mengabaikan peluang ini, kita akan melewatkan kesempatan untuk membentuk generasi yang lebih adaptif dan inovatif,” tegas Trubus. Irma, di sisi lain, berharap adanya program pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas guru, sehingga mereka mampu mengimplementasikan CT secara efektif.

Kedua ahli sepakat bahwa permainan edukatif dan aktivitas sehari-hari harus dirancang dengan strategi yang terpadu, agar anak-anak tidak hanya terhibur tetapi juga terdidik. Trubus mengajak semua pihak untuk menjadikan PAUD sebagai pangkalan pendidikan yang tidak hanya mengenalkan konsep, tetapi juga melatih anak-anak untuk menerapkannya secara mandiri. “Ini adalah awal dari perubahan yang lebih besar, tidak hanya dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *