Key Strategy: Lestari Moerdijat: Pelestarian Lengger Perkuat Karakter dan Kesadaran Kebangsaan Generasi Penerus
Key Strategy: Pelestarian Lengger Kembali Perkuat Karakter Generasi Muda
Peluncuran Acara Diskusi tentang Konservasi Budaya
Key Strategy – Dalam rangka menguatkan rasa nasionalisme dan identitas bangsa, Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, menghadiri acara diskusi bertajuk “Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa” di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (15/6). Key Strategy yang diusung dalam acara ini menekankan pentingnya seni tradisional Lengger sebagai alat untuk membangun kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda. Acara ini menjadi wadah bagi pemikiran kolektif tentang bagaimana budaya lokal bisa menjadi pilar dalam memperkuat karakter bangsa.
Kehadiran Lestari Moerdijat mendapat apresiasi dari para peserta acara, termasuk Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, anggota Komisi XII Sugeng Suparwoto, serta Pembina Lengger Bicara Andy Flores Noya. Dalam pidatonya, Rerie (sapaan akrab Lestari) menegaskan bahwa seni Lengger adalah bukti keberhasilan Key Strategy dalam menjaga kehidupan budaya yang relevan dengan masa kini. Ia menekankan bahwa budaya harus menjadi bagian integral dari pendidikan dan kehidupan sehari-hari, agar nilai-nilai kebangsaan tidak terkikis oleh perubahan global.
“Kita harus mengubah pola pikir bahwa budaya hanya simbol. Key Strategy dalam pelestarian Lengger adalah jembatan antara tradisi dan masa depan, sehingga generasi penerus bisa merasakan makna kebanggaan pada warisan leluhur,” ujar Rerie.
Peran Lengger dalam Penguatan Kesadaran Kebangsaan
Lestari Moerdijat memaparkan bahwa Lengger, sebagai tarian tradisional Banyumas, memiliki makna yang lebih dari sekadar pertunjukan. Seni ini, menurutnya, bisa menjadi medium untuk memupuk rasa cinta tanah air dan kesadaran akan keberagaman budaya Indonesia. Key Strategy yang diusung dalam diskusi ini juga menyasar cara-cara baru dalam mengajarkan nilai kebangsaan, agar anak muda tidak hanya menghargai sejarah, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks demokrasi, Rerie menyoroti bahwa Key Strategy dalam pelestarian seni tradisional adalah kunci untuk membangun masyarakat yang bertanggung jawab. Ia mengatakan, demokrasi yang sejati tidak hanya tentang proses politik, tetapi juga tentang keinginan generasi muda untuk menjaga harmoni antarumat dan menghargai kekayaan warisan budaya. “Tanpa Key Strategy yang kuat, kesadaran kebangsaan akan menjadi hiasan belaka, bukan akar dari kehidupan berbangsa,” tambahnya.
“Lengger adalah representasi dari Key Strategy yang berfokus pada integrasi nilai-nilai kebangsaan dalam seni. Ini harus menjadi prioritas agar identitas budaya tetap hidup di tengah modernisasi,” imbuh Rerie.
Tantangan dan Solusi dalam Melestarikan Budaya Lokal
Key Strategy dalam pelestarian Lengger juga menghadapi tantangan, seperti kehilangan minat generasi muda terhadap seni tradisional. Lestari Moerdijat menyoroti bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab seniman atau komunitas budaya, tetapi harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. “Key Strategy ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pendidik, dan keluarga, agar budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan secara sistematis,” jelasnya.
Dalam pidatonya, Rerie mengingatkan bahwa Lengger yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak 2019 harus terus dikembangkan. Ia menegaskan bahwa pengakuan internasional tersebut adalah bukti bahwa Key Strategy dalam pelestarian seni bisa mengangkat budaya lokal ke tingkat yang lebih luas. “Kita harus memastikan bahwa Lengger tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membentuk karakter nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rerie menekankan bahwa Key Strategy ini membutuhkan inovasi dalam penyampaian pesan budaya. Misalnya, melalui pendidikan atau media, Lengger bisa menjadi alat untuk memperkuat rasa nasionalisme. “Kita harus kreatif dalam menyampaikan makna seni tradisional, agar generasi muda merasa bahwa budaya adalah bagian dari identitas mereka,” lanjutnya.
Kesimpulan: Key Strategy sebagai Gerakan Nasional
Kegiatan ini menegaskan bahwa Key Strategy dalam pelestarian Lengger tidak hanya untuk konservasi seni, tetapi juga untuk memperkuat kesadaran kebangsaan di kalangan pemuda. Lestari Moerdijat mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung langkah-langkah strategis ini, agar seni tradisional menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. “Key Strategy ini adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan budaya dan membangun karakter bangsa yang kuat,” pungkasnya.
