New Policy: Imam Masjid Siap Jadi Ujung Tombak Diplomasi Perdamaian Dunia

1781451278_0b3aaef806d1f546a2c4

Imam Masjid Siap Jadi Ujung Tombak Diplomasi Perdamaian Dunia

Konferensi Global Masjid Mulai Diusung dari Makassar

New Policy – Sejumlah ratusan tokoh agama, imam masjid, akademisi, serta pemangku kebijakan berkumpul di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, pada hari Ahad (14/6). Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan awal dari upaya besar mempersiapkan Konferensi Grand Imam Internasional tentang Harmoni Masjid, Diplomasi Agama, dan Perdamaian Global 2026 yang akan digelar di Jakarta. Menurut Ketua Panitia, Abdul Gaffar, acara ini dirancang sebagai wadah dialog nasional yang bertujuan mengubah paradigma masjid menjadi pusat peradaban, pembangunan harmoni sosial, serta penggerak perdamaian dunia.

Acara yang berbentuk Seminar Nasional dan Istighosah menekankan peran imam masjid dalam menghadapi tantangan zaman modern. “Zaman kini bergerak cepat, dan imam tidak cukup hanya mahir memimpin salat,” ujar Abdul Gaffar. Ia menekankan bahwa para imam sekarang perlu menjadi pemimpin moral, pendidik masyarakat, serta garda depan dalam mengatasi isu seperti radikalisme, ketidakadilan sosial, dan disinformasi.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan sikap toleran dan inklusif di tengah keberagaman masyarakat,” kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad. Ia menambahkan bahwa institusi keagamaan harus aktif membimbing jamaah menuju nilai-nilai moderat yang mampu memperkuat solidaritas antarumat beragama.

Peran Masjid dalam Peradaban dan Kesejahteraan

Di samping fokus pada perdamaian, acara ini juga mengupas isu lingkungan dan ekonomi. Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag RI, H. Ahmad Zayadi, mengusulkan bahwa masjid bisa menjadi penggerak gerakan ekoteologi. “Dari masjid kita bisa memulai praktik ibadah ekologis. Nilai-nilai agama memiliki daya besar dalam membentuk kesadaran menjaga kehidupan bumi,” ujarnya.

BAZNAS turut menyuarakan peran masjid sebagai pelaku pemberdayaan ekonomi. Menurutnya, masjid memiliki potensi menjadi pusat layanan keuangan mikro dan wadah kolaborasi masyarakat. “Peran imam tidak hanya berada di ruang ibadah, tetapi juga bisa menginspirasi kegiatan produktif yang menguntungkan umat,” tambah Zayadi.

Konferensi Internasional dan Kegiatan Pendahuluan

Konferensi Internasional yang bertema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” akan berlangsung secara bertahap dari Februari hingga Oktober 2026. Puncak acara dijadwalkan di Masjid Istiqlal dan Hotel Borobudur, Jakarta. Sebelumnya, panitia telah mengadakan program “Bridging to Conference” yang mencakup workshop, seminar, istighosah, serta tabligh akbar di enam wilayah, yaitu Kalimantan Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Acara konsolidasi ini menjadi kesempatan untuk mengumpulkan perwakilan dari berbagai kalangan. Peserta terdiri dari imam masjid, pemimpin organisasi keagamaan nasional dan internasional, akademisi, peneliti, serta delegasi dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Narasumber yang hadir di Makassar, antara lain Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) H. Muhammad Ishaq Shamad, Direktur Bina KUA H. Ahmad Zayadi, Wakil Kepala Bidang Peribadatan BPIM Jakarta K.H. Mas’ud Halimin, serta Direktur Perlindungan BNPT RI Irfan Idris.

Konferensi ini memiliki target ambisius: menghasilkan dokumen Istiqlal Understanding of International Imams sebagai pedoman bersama dan membentuk wadah persatuan para imam di seluruh dunia. “Dokumen ini akan menjadi landasan untuk memperkuat peran masjid dalam diplomasi agama dan menghadapi isu global,” jelas Abdul Gaffar. Selain itu, acara ini diharapkan mampu menciptakan jaringan kerja lintas negara yang berfokus pada harmoni antarumat beragama.

Kolaborasi Lintas Institusi dan Makna Global

Kegiatan ini melibatkan kerja sama antara Kementerian Agama RI, Masjid Istiqlal, Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sulawesi Selatan, Kementerian Luar Negeri, serta perwakilan kedutaan besar beberapa negara. “Peran masjid tidak terbatas pada satu wilayah, tetapi harus menjadi ruang dialog yang terbuka untuk umat beragama di seluruh dunia,” tambah Abu Rokhmad.

Kehadiran delegasi internasional menunjukkan pentingnya masjid sebagai simbol keharmonisan. Dalam pertemuan di Makassar, para peserta tidak hanya membahas tantangan lokal, tetapi juga peran masjid dalam membangun kebijakan global. “Masjid bisa menjadi ujung tombak dalam mengembangkan komunikasi lintas budaya dan agama,” kata Irfan Idris. Selain itu, acara ini diharapkan memperkuat kerja sama antarlembaga dalam menghadapi krisis sosial dan lingkungan.

Konferensi 2026 ini juga menggali potensi masjid sebagai pusat penguatan nilai-nilai keagamaan. “Dari sini, kita bisa mendorong masyarakat agar berpikir kritis dan mengambil langkah konkret untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan damai,” tegas H. Muhammad Ishaq Shamad. Dengan berbagai inisiatif yang disusun, konferensi ini menjadi langkah strategis untuk menegakkan peran masjid dalam menghadapi era globalisasi.

Perjalanan Menuju Perdamaian Dunia

Sebagai pembuka, seminar di Makassar menjadi penjelmaan awal dari visi besar ini. “Perubahan zaman memaksa masjid menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat modern,” kata Abdul Gaffar. Acara ini juga mengajak para imam untuk menjadi pionir dalam membangun peradaban berbasis keagamaan. “Dengan bimbingan imam, masjid bisa menjadi tempat pertemuan antara tradisi dan inovasi,” tambahnya.

Di sisi lain, Abu Rokhmad menekankan bahwa masjid perlu menjadi pusat pengembangan karakter masyarakat. “Nilai-nilai agama harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam ritual,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa kemitraan antarlembaga sangat krusial dalam mempercepat pencapaian tujuan ini. “Kerja sama antaragama dan antarlembaga bisa menjadi kunci sukses diplomasi perdamaian global,” pungkas Abu Rokhmad.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, konferensi ini menjadi platform penting untuk menegakkan masjid sebagai kekuatan sosial yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. “Dari Makassar, kita menuju Jakarta, tetapi perjalanan ini berawal dari kesadaran para imam bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar,” kata Abdul Gaffar. Acara ini diharapkan menjadi titik awal perubahan menuju dunia yang lebih harmonis dan adil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *